Jarimatika

June 9, 2009

“Jarimatika sangat hebat. Kemarin saya meilhatnya di televisi.”
“Seperti apa hebatnya Jarimatika?”
“Ya…anak kecil bisa berhitung cepat. Tapi namanya bukan Jarimatika kok! Namanya JHS atau apa gitu.”
“JHS itu apa?”
“Tidak tahu. Mungkin Jari Hitung Sepat?”

Bagi saya Jarimatika itu sangat hebat. Apa yang paling hebat dari Jarimatika? Menurut saya adalah namanya: Jarimatika. Bagi orang Indonesia, istilah Jarimatika terdengar begitu akrab dan dengan cepat menangkap maksud dari istilah itu. Orang dengan mudah akan menangkap makna bahwa jarimatika adalah menggunakan jari untuk matematika. Atau menggunakan jari untuk aritmetika (aritmatika).

Bagaimana dampak belajar Jarimatika?
Saya pernah mengulasnya pada tulisan saya terdahulu. Menurut saya, Jarimatika adalah inovasi lanjutan dari sempoa.

Pembelajaran Matematika Realistik

June 6, 2009

Pendidikan matematika realistik atau Realistic Mathematics Education (RME) mulai berkembang karena adanya keinginan meninjau kembali pendidikan matematika di Belanda yang dirasakan kurang bermakna bagi pebelajar. Gerakan ini mula-mula diprakarsai oleh Wijdeveld dan Goffre (1968) melalui proyek Wiskobas. Selanjutnya bentuk RME yang ada sampai sekarang sebagian besar ditentukan oleh pandangan Freudenthal (1977) tentang matematika. Menurut pandangannya matematika harus dikaitkan dengan kenyataan, dekat dengan pengalaman anak dan relevan terhadap masyarakat, dengan tujuan menjadi bagian dari nilai kemanusiaan. Selain memandang matematika sebagai subyek yang ditransfer, Freudenthal menekankan ide matematika sebagai suatu kegiatan kemanusiaan. Pelajaran matematika harus memberikan kesempatan kepada pebelajar untuk “dibimbing” dan “menemukan kembali” matematika dengan melakukannya. Artinya dalam pendidikan matematika dengan sasaran utama matematika sebagai kegiatan dan bukan sistem tertutup. Jadi fokus pembelajaran matematika harus pada kegiatan bermatematika atau “matematisasi” (Freudental,1968). Kemudian Treffers (1978, 1987) secara eksplisit merumuskan ide tersebut dalam 2 tipe matematisasi dalam konteks pendidikan, yaitu matematisasi horisontal dan vertikal. Pada matematisasi horizontal siswa diberi perkakas matematika yang dapat menolongnya menyusun dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.Matematisasi vertikal di pihak lain merupakan proses reorganisasi dalam sistem matematis, misalnya menemukan hubungan langsung dari keterkaitan antar konsep-konsep dan strategi-strategi dan kemudian menerapkan temuan tersebut. Jadi matematisasi horisontal bertolak dari ranah nyata menuju ranah simbol, sedangkan matematisasi vertikal bergerak dalam ranah simbol. Kedua bentuk matematisasi ini sesungguhnya tidak berbeda maknanya dan sama nilainya (Freudenthal, 1991). Hal ini disebabkan oleh pemaknaan “realistik” yang berasal dari bahasa Belanda “realiseren” yang artinya bukan berhubungan dengan kenyataan, tetapi “membayangkan”. Kegiatan “membayangkan” ini ternyata akan lebih mudah dilakukan apabila bertolak dari dunia nyata, tetapi tidak selamanya harus melalui cara itu.selengkapnya…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.